Wednesday, 4th February 2026
by Admin

Akhir-akhir ini Imuners mungkin sering denger kabar bencana alam dari mulai banjir hingga tanah longsor di berbagai daerah di Indonesia.
Bencana alam ini bukan hanya membawa potensi bahaya ketika terjadi, tapi juga setelahnya melalui penyakit infeksi seperti tetanus.
Ketika banyak benda berserakan yang membuat kemungkinan terjadinya luka menjadi semakin besar tetanus bisa menyebar dengan lebih mudah.
Seperti apa sebenarnya potensi bahaya penyebaran tetanus pasca bencana? Bagaimana cara mencegahnya? Berikut informasi selengkapnya.
Tetanus merupakan penyakit serius yang muncul ketika bakteri dari tanah atau kotoran masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka.
Luka tersebut bisa berupa tusukan paku, goresan logam, sayatan kayu, atau lecet yang kotor.
Begitu masuk, bakteri ini menghasilkan racun yang menyerang sistem saraf. Gejala awal dari tetanus biasanya berupa kaku di rahang dan leher, lalu menyebar ke otot lain.
Pada kondisi berat, penderita tetanus bisa mengalami kejang hebat hingga kesulitan bernapas.
Tetanus tidak menular antar manusia, tetapi tingkat kematian akibat penyakit ini tergolong cukup tinggi bila tidak ditangani cepat.
Yang lebih penting lagi, seseorang yang pernah terkena tetanus tidak otomatis kebal dari infeksi selanjutnya.
Oleh karena itu, imunisasi masih tetap menjadi perlindungan utama dari penyakit yang satu ini.
Berbagai laporan medis dari wilayah terdampak gempa, badai, dan banjir menunjukkan pola yang sama yaitu naiknya angka tetanus pasca bencana.
Saat bencana beberapa kondisi yang bisa mempermudah penyebaran tetanus bisa terjadi seperti:
Kondisi pasca bencana ini membuat luka kecil sekalipun berpotensi terkontaminasi.
Air banjir sendiri sebenarnya tidak otomatis menyebabkan tetanus, tetapi luka yang terkena tanah atau puing bisa menjadi pintu masuk bakteri.
Dalam satu laporan pasca bencana di Jepang, dokter menemukan relawan yang terluka saat membersihkan area terdampak.
Relawan ini belum pernah diimunisasi tetanus sebelumnya karena lahir sebelum program imunisasi rutin berlaku.
Kasus ini menggambarkan bagaimana orang dewasa, terutama yang jarang menerima booster, bisa berada dalam resiko tinggi.
Setelah bencana, perhatian khusus perlu diberikan kepada:
Resiko tetanus meningkat apabila seseorang:
Kelompok usia dewasa seringkali justru menjadi kelompok yang paling rentan karena banyak orang tidak melakukan imunisasi booster tetanus setiap sepuluh tahun.
Imunisasi tetanus bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh agar siap melawan racun bakteri sebelum menimbulkan gejala berat.
Panduan kesehatan internasional menyarankan beberapa hal berikut ini untuk imunisasi tetanus:
Dalam kondisi pascabencana, tenaga medis biasanya menilai dua hal utama yaitu jenis luka dan riwayat vaksinasi.
Dari situ mereka menentukan apakah seseorang cukup dengan booster atau perlu tambahan perlindungan berupa immunoglobulin tetanus.
Imunoglobulin ini memberi perlindungan sementara, terutama bagi orang yang belum pernah diimunisasi lengkap.
Akan tetapi, pemberian immunoglobulin ini tidak menggantikan imunisasi jangka panjang.
Selain imunisasi, satu hal sederhana tapi sering disepelekan adalah membersihkan luka dengan benar.
Semua luka, sekecil apa pun, sebaiknya:
Perawatan luka yang cepat dan tepat bisa menurunkan resiko infeksi secara signifikan.
Banyak orang mengira bahwa setelah bencana semua korban bencana harus langsung imunisasi tetanus.
Panduan medis dari beberapa lembaga kesehatan internasional menekankan pendekatan yang lebih terarah.
Fokus utama imunisasi dilakukan untuk:
Strategi ini membantu tenaga kesehatan menggunakan sumber daya secara efektif tanpa menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.
Laporan dari wilayah pasca gempa, badai, dan banjir di berbagai negara menunjukkan satu pesan kuat yaitu pencegahan selalu lebih murah dan lebih aman dibandingkan pengobatan.
Melakukan imunisasi sebelum atau selama masa pemulihan, memperbaiki akses layanan kesehatan, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perawatan luka terbukti dapat menekan kasus tetanus.
Bagi pemerintah dan organisasi kemanusiaan, memasukkan imunisasi tetanus ke dalam paket respons kebencanaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Di tengah situasi darurat, orang sering mengabaikan luka ringan karena ingin segera membantu atau membersihkan lingkungan.
Padahal ada ancaman berbahaya yang mengintai apabila prosedur kesehatan seperti imunisasi tetanus dan membersihkan luka dengan menyeluruh tidak dilakukan.
Langkah-langkah ini memang tampak kecil, tetapi bisa menjadi pembeda antara pemulihan yang aman dan resiko kesehatan yang berat.
Ketika bencana terjadi, kewaspadaan sering kali menjadi bentuk perlindungan terbaik
Sumber