Artikel

Homepage/artikel

/skrining-hpv-vs-imunisasi-hpv-mana-yang-lebih-penting

Skrining HPV vs Imunisasi HPV: Mana yang Lebih Penting?

Friday, 9th May 2025

by Admin

skrininghpv-imunisasihpv.webp

Human Papillomavirus (HPV) adalah virus umum yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk kanker serviks. Pencegahan terhadap HPV bisa dilakukan melalui dua cara utama, yaitu skrining HPV dan imunisasi HPV. Namun, masih banyak masyarakat yang bingung, mana yang lebih penting: skrining HPV atau imunisasi HPV?

Mari kita cari tau sama-sama yuk, Imuners! Artikel ini akan membahas perbedaan, fungsi, dan pentingnya kedua metode tersebut untuk pencegahan kanker serviks dan penyakit terkait HPV.

Apa Itu Skrining HPV?

Skrining HPV adalah prosedur medis yang bertujuan untuk mendeteksi adanya infeksi HPV atau perubahan sel pada leher rahim yang dapat berkembang menjadi kanker. Skrining HPV punya beberapa metode yang dapat Imuners pilih menyesuaikan dengan kondisi, seperti berikut

Tes IVA (Inveksi Visual Asetat)

Pemeriksaan ini ditujukan untuk seluruh wanita yang sudah berhubungan seksual, terutama Wanita Usia Subur (WUS). Pemeriksaan ini bisa dilakukan kapan saja, namun tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan IVA pada saat kehamilan, lebih baik ditunda hingga 12 minggu setelah melahirkan.

Dimana prosedurnya meliputi leher rahim diolesi asam asetat 3–5%, jika sel serviks normal, tidak ada perubahan warna, namun jika ada sel prakanker/kanker, area tersebut akan berubah menjadi putih.

Pap smear

Pemeriksaan untuk mendeteksi kanker leher rahim dengan cara mengambil sampel sel dari serviks, lalu di analisis di laboratorium. Tes ini bisa mendeteksi sel abnormal, infeksi, atau peradangan. Disarankan dilakukan setiap 3 tahun sekali untuk wanita usia 21 ke atas, dan tiap 5 tahun sekali bagi usia 30–65 tahun jika dikombinasikan dengan tes HPV.

HPV DNA

Tes untuk mendeteksi infeksi HPV risiko tinggi pada sel serviks, yang dapat menjadi penyebab kanker leher rahim. WHO merekomendasikan tes ini untuk wanita usia 30 tahun ke atas setiap 5–10 tahun, dan bagi wanita dengan HIV sejak usia 25 tahun setiap 3–5 tahun. Tes ini dianggap paling akurat karena bisa mendeteksi risiko kanker bahkan sebelum muncul lesi prakanker. Jika hasilnya positif, ada risiko terkena kanker serviks namun masih bisa diatasi lebih dini. Sampel diambil seperti pada pap smear, namun terdapat juga metode alternatif dengan urin yang lebih praktis dan nyaman. CerviScan adalah reagen tes untuk deteksi 14 tipe virus HPV high risk penyebab kanker serviks.

Dengan melakukan skrining HPV secara rutin, wanita dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih dini dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat.

Apa Itu Imunisasi HPV?

Imunisasi atau vaksinasi HPV adalah tindakan pencegahan dari infeksi HPV, terutama tipe yang paling sering menyebabkan kanker serviks. Vaksin HPV bekerja dengan cara merangsang sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus jika sewaktu-waktu terpapar. Imunisasi HPV sebaiknya diberikan sejak usia dini, yakni antara 9–14 tahun, sebelum seseorang aktif secara seksual. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian vaksin HPV dimulai sejak usia 9 tahun pada anak perempuan untuk efektivitas perlindungan yang optimal. Secara umum, jadwal pemberian vaksin HPV adalah sebagai berikut:

  • Untuk anak usia 9-14 tahun : dua dosis dalam rentang waktu 6-12 bulan
  • Untuk usia > 14 tahun - 45 tahun : tiga dosis dalam selang waktu 0 - 2 - 6 bulan
Skrining HPV vs Imunisasi HPV, Apa Bedanya?

Meskipun sama-sama berfungsi untuk mencegah kanker serviks, skrining HPV dan imunisasi HPV memiliki perbedaan mendasar. Imunisasi HPV bersifat preventif sebelum infeksi terjadi, sementara skrining HPV bertujuan mendeteksi adanya infeksi yang sudah terjadi. Dengan kata lain, imunisasi HPV mencegah, sedangkan skrining HPV mendeteksi. Keduanya saling melengkapi dalam upaya pencegahan kanker serviks yang komprehensif.

Haruskah Melakukan Keduanya?

Idealnya, wanita melakukan skrining HPV terlebih dahulu apabila hasilnya negatif bisa dilanjutkan dengan imunisasi HPV. Namun jangan sampai skrining menghambat seseorang untuk di vaksinasi. Vaksin sendiri diperbolehkan langsung dilakukan tanpa skrining, namun melakukan skrining HPV meski sudah mendapat imunisasi tetap penting karena vaksin HPV tidak melindungi dari semua tipe HPV. Dengan kombinasi imunisasi HPV dan skrining HPV, risiko kanker serviks dapat ditekan secara signifikan.

Bagaimana Jika Hanya Bisa Salah Satu?

Banyak orang bertanya, apakah cukup hanya dengan imunisasi HPV atau skrining HPV saja? Jika harus memilih, imunisasi HPV sebaiknya diprioritaskan pada usia muda karena dapat memberikan perlindungan jangka panjang. Namun, bagi yang belum sempat vaksin dan sudah aktif secara seksual, skrining HPV tetap harus dilakukan. Baik skrining HPV maupun imunisasi HPV memiliki keunggulan masing-masing, dan keputusan sebaiknya berdasarkan usia, riwayat kesehatan, serta akses terhadap layanan kesehatan.

Pentingnya Edukasi tentang HPV

Kurangnya pemahaman tentang skrining HPV dan imunisasi HPV membuat angka partisipasi masyarakat masih rendah. Padahal, keduanya sangat penting untuk mencegah penyakit yang bisa berakibat fatal. Edukasi yang tepat tentang skrining HPV dan manfaat imunisasi HPV perlu ditingkatkan, baik melalui sekolah, media sosial, maupun layanan kesehatan. Semakin banyak orang yang memahami pentingnya tindakan pencegahan ini, semakin besar peluang menurunkan angka kasus kanker serviks di Indonesia.

Kesimpulan

Skrining HPV dan imunisasi HPV bukanlah pilihan yang harus saling menggantikan, melainkan dua langkah pencegahan yang saling mendukung. Imunisasi HPV memberikan perlindungan dari awal, sedangkan skrining HPV menjadi kontrol lanjutan yang membantu deteksi dini. Jika memungkinkan, lakukan keduanya untuk perlindungan maksimal terhadap infeksi HPV dan kanker serviks.

Imuners, yuk lakukan pergerakan preventif dengan melakukan skrining HPV dan juga imunisasi HPV ke klinik Imunicare terdekat!

Sumber: