Friday, 20th February 2026
by Admin

Imuners agar dapat menjalankan ibadah di bulan Ramadan penting sekali untuk menjaga kesehatan, puasa sendiri membawa perubahan signifikan pada pola makan, jam tidur, dan metabolisme tubuh. Perubahan ini dapat memberikan manfaat kesehatan bagi sebagian orang, tetapi bagi individu dengan kondisi medis tertentu, puasa perlu dilakukan dengan pengawasan khusus.
Menurut World Health Organization (WHO), pengaturan pola makan dan hidrasi yang tepat sangat penting untuk menjaga stabilitas metabolik, terutama pada individu dengan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi. Karena itu, memahami kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan di bulan puasa menjadi langkah penting agar ibadah tetap aman dan tidak menimbulkan komplikasi.
Diabetes termasuk kondisi kesehatan yang paling sering menjadi perhatian saat puasa. Perubahan waktu makan dan konsumsi obat dapat memengaruhi kadar gula darah secara drastis.
WHO menyebutkan bahwa diabetes merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) utama di dunia, dengan lebih dari 422 juta orang terdampak secara global. Ketidakseimbangan kadar gula darah dapat memicu komplikasi serius jika tidak dikontrol.
Risiko puasa pada penderita diabetes meliputi:
Beberapa studi medis menunjukkan bahwa risiko hipoglikemia meningkat menjelang sore hari karena durasi puasa yang panjang.
Rekomendasi medis:
Jika gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi, puasa sebaiknya dibatalkan demi keselamatan.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi juga termasuk kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan di bulan puasa. WHO menyatakan bahwa hipertensi adalah penyebab utama penyakit jantung dan stroke secara global.
Selama puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan selama lebih dari 12 jam. Kondisi ini dapat memicu:
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat membantu menurunkan tekanan darah ringan jika pola makan sehat diterapkan. Namun, konsumsi makanan tinggi garam saat berbuka justru bisa meningkatkan tekanan darah secara tiba-tiba.
Tips aman puasa untuk penderita hipertensi:
Jika muncul nyeri dada, sakit kepala berat, atau tekanan darah tidak stabil, segera periksa ke fasilitas kesehatan.
Gangguan lambung seperti gastritis dan GERD sering kambuh saat puasa. Kondisi ini terjadi karena perut kosong dalam waktu lama dapat meningkatkan produksi asam lambung pada sebagian individu.
Gejala yang umum muncul:
Namun secara medis, puasa tidak selalu memperburuk penyakit lambung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan yang lebih teratur dan porsi yang terkendali saat Ramadan justru dapat membantu menurunkan gejala, asalkan makanan pemicu dihindari.
Rekomendasi medis:
Jika memiliki riwayat tukak lambung berat atau muntah darah, konsultasi medis sangat dianjurkan sebelum berpuasa.
Ibu hamil memerlukan asupan nutrisi dan cairan yang stabil untuk mendukung pertumbuhan janin. WHO menekankan pentingnya kecukupan zat besi, asam folat, protein, dan cairan selama kehamilan.
Puasa dapat meningkatkan risiko:
Beberapa studi menunjukkan bahwa puasa pada trimester pertama perlu perhatian lebih karena fase ini adalah masa pembentukan organ janin.
Hal yang perlu diperhatikan:
Jika muncul kontraksi, pusing berat, atau gerakan janin berkurang, puasa sebaiknya dihentikan.
WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. Karena itu, kecukupan nutrisi ibu menyusui sangat penting.
Secara umum, puasa tidak langsung menurunkan kualitas ASI, tetapi dapat memengaruhi volume produksi jika asupan cairan dan kalori kurang.
Risiko yang mungkin terjadi:
Tips aman puasa untuk ibu menyusui:
Ibadah yang baik adalah dengan kondisi kesehatan yang baik Imuners! WHO menekankan bahwa individu dengan penyakit kronis perlu mendapatkan penilaian risiko sebelum melakukan perubahan pola makan ekstrem. Jika puasa berpotensi memperburuk kondisi medis, maka keselamatan harus menjadi prioritas.
Segera hentikan puasa jika mengalami:
Kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan di bulan puasa meliputi diabetes, hipertensi, penyakit lambung, ibu hamil, dan ibu menyusui. Berdasarkan rekomendasi medis dan WHO, puasa tetap dapat dijalankan dengan aman jika dilakukan dengan persiapan yang tepat dan konsultasi tenaga kesehatan.
Puasa yang sehat bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga keseimbangan metabolisme tubuh. Jika Anda memiliki kondisi medis tertentu, lakukan evaluasi kesehatan sebelum Ramadan agar ibadah tetap lancar dan tubuh tetap terlindungi.
Sumber: