Monday, 2nd February 2026
by Admin

Imuners pasti udah sering denger soal rabies. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh gigitan hewan seperti anjing atau kucing.
Meski terdengar seperti penyakit sepele, rabies ternyata bisa menyebabkan kematian loh Imuners kalau tidak ditangani dengan baik.
Seberapa bahaya sebenarnya rabies? Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit ini? Yuk, simak pembahasan selengkapnya berikut ini!
Rabies adalah infeksi virus yang menyerang sistem saraf. Penularannya paling sering terjadi lewat gigitan anjing, kucing, atau hewan liar seperti kelelawar.
Virus rabies masuk melalui luka di kulit, lalu bergerak perlahan menuju otak.
Yang berbahaya dari penyakit ini adalah penderitanya sering kali tidak merasakan apa-apa selain nyeri di bekas luka di fase awal.
Kemudian ketika gejala infeksi seperti demam, gelisah, sulit menelan, bahkan kejang sudah mulai muncul kondisi penderita biasanya sudah hampir tidak bisa tertolong lagi.
Inilah alasan dalam penanganan kasus yang dicurigai sebagai rabies dokter tidak menunggu sampai pasien sakit.
Penanganan akan segera dilakukan untuk mencegah virus menyebar dan mengakibatkan kematian.
Imunisasi rabies membantu tubuh membentuk antibodi untuk melawan virus mematikan ini.
Dokter bisa memberikannya dalam dua situasi yaitu:
WHO dan otoritas kesehatan dunia lainnya sekarang hanya merekomendasikan vaksin modern yang dibuat dari kultur sel.
Vaksin jenis lama yang berasal dari jaringan saraf sudah ditinggalkan karena lebih banyak efek samping dan dirasa kurang efektif.
Tidak semua orang perlu melakukan imunisasi rabies secara rutin, tapi lembaga kesehatan internasional seperti NHS menyarankan imunisasi rabies sebelum terpapar untuk:
Imunisasi sebelum paparan tidak membuat seseorang kebal seumur hidup. Akan tetapi, jika suatu hari tergigit hewan yang dicurigai rabies, perawatan lanjutan akan menjadi lebih singkat dan sederhana.
Menurut lembaga kesehatan internasional seperti NHS, imunisasi rabies sebelum paparan biasanya diberikan lewat suntikan ke otot lengan atau paha dengan jadwal:
Tiga suntikan ini akan memberi perlindungan awal dari serangan virus rabies.
Untuk orang yang terus berada dalam resiko tinggi, dokter biasanya menyarankan booster setelah beberapa waktu.
WHO menegaskan bahwa setiap gigitan hewan di daerah beresiko harus dianggap serius, dan segera ditangani tanpa menunggu munculnya gejala.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan setelah digigit hewan yang dicurigai rabies adalah:
Basuh dengan air mengalir dan sabun selama beberapa menit, dan gunakan antiseptik jika perlu. Langkah ini bisa mengurangi jumlah virus yang masuk lewat luka.
Dokter akan menilai resiko dan memutuskan apakah perlu post-exposure prophylaxis (PEP), yaitu rangkaian perawatan yang dilakukan setelah paparan.
PEP adalah rangkaian penanganan yang dilakukan ketika seseorang dicurigai terpapar virus rabies.
PEP biasanya terdiri dari tiga bagian yaitu
Untuk orang yang belum pernah imunisasi rabies, CDC merekomendasikan imunisasi pada hari saat kontak dengan virus terjadi, H+3, H+7, dan H+14
Untuk orang dengan sistem kekebalan lemah, dokter bisa menambahkan dosis pada hari ke-28.
Jika seseorang sudah pernah diimunisasi secara lengkap sebelumnya, jadwal imunisasi menjadi jauh lebih ringkas yaitu dua dosis saja, pada hari 0 dan H+3, tanpa perlu immunoglobulin.
Dalam konteks darurat setelah gigitan, hampir tidak ada alasan untuk menunda imunisasi rabies.
WHO, CDC, dan NHS sebagai lembaga kesehatan dunia sepakat bahwa:
tetap perlu menerima PEP jika resikonya tinggi. Bahaya rabies jauh lebih besar dibandingkan risiko efek samping dari vaksin.
Efek samping dari imunisasi rabies tergolong ringan jika dibandingkan dengan potensi bahaya dari rabies itu sendiri.
Sebagian besar orang hanya merasakan:
Reaksi alergi berat jarang terjadi, tetapi tenaga medis yang melakukan prosedur imunisasi biasanya selalu stand by untuk menangani kemungkinan ini.
Jadi secara umum, imunisasi rabies termasuk sangat aman untuk dilakukan.
Tidak ada perlindungan medis yang benar-benar menjamin kesembuhan dari suatu penyakit atau kondisi tertentu.
Tindakan PEP yang dilakukan cepat dan lengkap, memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi dalam mencegah virus rabies untuk berkembang lebih lanjut.
Inilah sebabnya kita tidak boleh menunda penanganan setelah gigitan terjadi.
Rabies hampir selalu mematikan, tetapi imunisasi bisa mencegahnya asal diberikan tepat waktu.
Kenali resiko, hindari kontak dengan hewan liar, dan jangan ragu mencari pertolongan medis setelah gigitan.
Dalam kasus rabies, bertindak cepat bukan sekadar pilihan. Hal ini bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati.
Sumber