Monday, 26th January 2026
by Admin

Imuners mungkin udah denger soal kematian mendadak dari salah satu influencer tanah air, dan udah tahu juga kalau almarhumah memiliki riwayat penyakit GERD dan infeksi usus.
Ketika dua penyakit ini digadang-gadang menjadi penyebab meninggalnya almarhumah banyak yang tidak percaya karena dua penyakit ini dinilai bukan penyakit yang bisa menyebabkan kematian.
Seperti apa sebenarnya karakteristik dari GERD dan infeksi usus? Apakah kedua penyakit ini bisa menyebabkan kematian? Berikut pembahasan selengkapnya.
Masalah pencernaan sering dianggap sepele. Banyak orang mengira rasa panas di dada, mual, atau diare hanya gangguan sementara yang akan hilang sendiri.
Padahal, beberapa kondisi pencernaan tertentu seperti GERD dan infeksi usus bisa menimbulkan komplikasi serius jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat.
Banyak orang yang menunda berobat karena merasa masih kuat ketika mengalami masalah pencernaan, dan sebagian lagi malah merasa panik berlebihan tanpa memahami resiko sebenarnya dari gangguan yang mereka alami.
GERD merupakan singkatan dari gastroesophageal reflux disease yaitu kondisi ketika isi lambung terutama cairan asam naik kembali ke kerongkongan.
Masalah utama penyebab GERD biasanya diakibatkan oleh gangguan pada katup di bagian bawah kerongkongan.
Pada kondisi normal, katup ini menutup setelah kita menelan. Pada penderita GERD, katup tersebut sering tidak menutup rapat, sehingga cairan asam mudah naik.
Gejala yang paling dikenal dari GERD adalah rasa panas atau terbakar di dada (heartburn) dan sensasi asam di mulut.
Akan tetapi, GERD tidak selalu muncul dengan keluhan seperti itu. Sebagian orang mengalami batuk lama, suara serak, nyeri saat menelan, atau sensasi seperti ada ganjalan di tenggorokan.
Beberapa faktor dapat meningkatkan resiko GERD, antara lain:
Gaya hidup yang tidak sehat menjadi penyebab terbesar kenapa seseorang mengalami GERD.
Pola makan tinggi lemak, sering minum kopi atau alkohol, serta kurang bergerak dapat memperparah kondisi GERD.
Menurut Medical News Today sebagai salah satu portal kesehatan terkemuka di dunia menegaskan bahwa acid reflux atau GERD tidak langsung menyebabkan kematian.
Orang tidak akan meninggal hanya karena satu kali asam lambung naik. Namun, masalah bisa muncul ketika GERD berlangsung lama dan tidak terkendali.
Paparan asam yang terus-menerus bisa melukai dinding kerongkongan. Dari sini dapat timbul beberapa komplikasi seperti:
Dalam kasus tertentu, asam lambung juga bisa masuk ke saluran napas dan memicu infeksi paru. Kondisi ini memang jarang terjadi, tetapi tetap perlu diwaspadai.
Kesimpulannya, GERD bukan pembunuh langsung, tetapi komplikasinya dapat menjadi serius bila orang mengabaikan gejala selama bertahun-tahun.
Berbeda dengan GERD yang berkaitan dengan refluks asam, infeksi usus terjadi karena patogen menyerang saluran pencernaan.
Patogen yang menjadi penyebab infeksi usus bisa berupa:
Patogen ini biasanya masuk lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi, air yang tidak bersih, atau kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.
Infeksi usus biasanya muncul tiba-tiba dan ditandai oleh:
Pada beberapa kasus infeksi usus, kotoran bisa mengandung darah atau lendir. Hal ini menandakan infeksi yang lebih berat dan perlu pemeriksaan medis.
Sebagian besar infeksi usus akan sembuh sendiri dalam beberapa hari, tapi bukan berarti kondisi ini selalu ringan.
Resiko terbesar dari infeksi usus adalah dehidrasi, yaitu kehilangan cairan dan elektrolit akibat muntah dan diare yang terus-menerus.
Dehidrasi berat bisa berbahaya, terutama pada:
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat mengganggu kerja organ penting. Dalam situasi tertentu, infeksi bakteri yang parah juga bisa menyebar ke seluruh tubuh dan menimbulkan komplikasi serius.
Seperti GERD, infeksi usus jarang langsung berakibat fatal, tetapi dapat menjadi berbahaya bila orang menunda perawatan.
Penanganan GERD biasanya dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Weill Cornell Medicine, sebagai salah satu lembaga medis terkemuka di dunia menekankan beberapa hal untuk mengendalikan gejala GERD seperti
Dokter juga dapat meresepkan obat untuk mengurangi produksi asam atau membantu kerja sistem pencernaan.
Pada kasus tertentu yang tidak membaik dengan obat, tindakan medis lanjutan bisa dipertimbangkan.
Yang terpenting, jangan menganggap remeh gejala yang muncul terus-menerus. Nyeri dada berulang, sulit menelan, atau batuk tanpa sebab sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.
Untuk infeksi usus, fokus utama adalah mencegah dehidrasi. Cleveland Clinic sebagai salah satu lembaga kesehatan dunia menyarankan hal berikut dalam mencegah dehidrasi pada penderita infeksi usus yaitu
Dokter dapat memberikan obat tertentu bila infeksi disebabkan oleh bakteri atau parasit tertentu.
Pada kondisi berat, pasien mungkin membutuhkan cairan melalui infus untuk mencegah dehidrasi.
Segera cari bantuan medis jika infeksi berlangsung lebih dari beberapa hari, muncul darah di tinja, atau tubuh terasa sangat lemah dan pusing.
GERD dan infeksi usus merupakan dua masalah pencernaan yang sangat umum. Keduanya jarang menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat menimbulkan komplikasi serius bila orang mengabaikan gejala atau menunda pengobatan.
Kunci utamanya adalah mengenali tanda bahaya sejak awal, menjalani pola hidup sehat, dan mencari bantuan medis ketika keluhan tidak kunjung membaik.
Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar penderita GERD dapat hidup normal, dan kebanyakan infeksi usus akan sembuh tanpa masalah jangka panjang.
Sumber