Wednesday, 2nd July 2025
by Admin

Batuk sering kali disepelekan karena dianggap sebagai penyakit yang ringan, tapi kalau nggak sembuh-sembuh itu bisa jadi tanda penyakit yang lebih serius.
Imuners mungkin sering denger soal TBC, penyakit menular yang salah satu gejalanya adalah batuk yang enggak sembuh-sembuh.
Penyakit ini kalau tidak ditangani dengan baik, bisa menjalar ke berbagai organ tubuh dan menyebabkan berbagai komplikasi serius.
Apa saja gejala TBC selain batuk yang tidak kunjung sembuh? Bagaimana cara mengobati dan mencegahnya? Berikut ini pembahasan selengkapnya.
Tuberkulosis, atau lebih dikenal dengan singkatan TBC, adalah penyakit menular yang masih menjadi masalah serius di dunia, termasuk di Indonesia.
Meski sudah dikenal sejak lama, TBC tetap menjadi penyebab kematian nomor satu dari kelompok penyakit infeksi, bahkan melebihi HIV/AIDS.
TBC disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar melalui udara ketika penderita TBC aktif batuk, bersin, atau bahkan saat berbicara.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita HIV memiliki risiko lebih tinggi tertular TBC, terutama di lingkungan yang tertutup, padat penduduk, dan kurang ventilasi.
Biasanya, organ yang paling sering diserang adalah paru-paru, tapi TBC juga bisa menyerang bagian tubuh lain seperti otak, ginjal, tulang belakang, kelenjar getah bening, dan hati.
Infeksi TBC terbagi menjadi dua jenis: TBC laten dan TBC aktif. Pada TBC laten, bakteri sudah masuk ke dalam tubuh tetapi belum menimbulkan gejala apapun. Meskipun tanpa gejala, bakteri TBC dapat tetap hidup dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif. Risiko utamanya adalah bakteri ini bisa menjadi aktif kapan saja, terutama saat sistem kekebalan tubuh menurun.
Untungnya, orang dengan TBC laten tidak bisa menularkan penyakit ini kepada orang lain.
Sementara itu, TBC aktif adalah kondisi ketika bakteri berkembang biak dan mulai menimbulkan gejala. Inilah jenis TBC yang bisa menular dan harus segera diobati.
Gejala TBC aktif pada paru-paru biasanya berkembang secara perlahan, akibatnya banyak orang yang mengira mereka hanya terkena common cold atau batuk musiman padahal terserang TBC.
Gejala khas yang sering muncul antara lain batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, disertai dahak atau bahkan darah, nyeri dada saat bernapas atau batuk, serta demam ringan yang tidak kunjung reda.
Gejala lain yang cukup sering terjadi adalah tubuh terasa lemas, keluar keringat di malam hari, nafsu makan menurun, dan penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab jelas.
Bila TBC menyerang organ lain di luar paru-paru, gejala akan tergantung pada lokasi infeksinya.
Misalnya, jika menyerang tulang belakang, pasien bisa merasakan nyeri punggung yang menetap.
Jika menyerang otak, bisa muncul gejala seperti sakit kepala berat, leher kaku, kejang, hingga kebingungan.
TBC di ginjal bisa menyebabkan urine berdarah atau keruh, sedangkan infeksi di kelenjar getah bening sering ditandai dengan benjolan di leher yang tidak sakit.
Untuk memastikan seseorang menderita TBC, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan dan biasanya diawali dengan pemeriksaan fisik dan riwayat gejala.
Pemeriksaan lanjutan bisa meliputi rontgen dada untuk melihat kondisi paru-paru, tes dahak untuk mencari keberadaan bakteri, serta tes kulit Mantoux (PPD) atau tes darah IGRA yang mendeteksi respons tubuh terhadap infeksi TBC.
Pada kasus TBC laten, hasil tes darah atau kulit bisa positif, meskipun pasien tidak menunjukkan gejala.
Untuk kasus TBC ekstrapulmonal, dokter mungkin akan meminta tes tambahan seperti CT scan, MRI, atau biopsi tergantung pada lokasi infeksi.
Pengobatan TBC sebenarnya tersedia secara luas dan efektif, namun membutuhkan kesabaran serta kedisiplinan tinggi dari pasien.
Umumnya, pengobatan TBC aktif berlangsung minimal enam bulan. Dua bulan pertama adalah fase intensif, di mana pasien harus mengonsumsi empat jenis antibiotik sekaligus, yaitu isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol.
Setelah fase ini selesai, pasien akan melanjutkan pengobatan lanjutan selama empat bulan atau lebih dengan dua jenis obat saja.
Penting untuk diketahui bahwa pengobatan tidak boleh terputus di tengah jalan, karena bisa menyebabkan bakteri menjadi kebal atau resisten terhadap obat.
Jika hal ini terjadi, pengobatan akan jauh lebih sulit, lebih mahal, dan waktunya bisa mencapai dua tahun.
Untuk pasien dengan TBC laten, pengobatannya tidak seberat TBC aktif, tapi tetap penting untuk dilakukan. Tujuannya adalah mencegah agar infeksi tidak berubah menjadi aktif.
Biasanya, dokter akan memberikan isoniazid atau rifampisin selama tiga hingga sembilan bulan, tergantung pada kondisi pasien.
Salah satu tantangan besar dalam pengendalian TBC adalah memastikan pasien benar-benar meminum obat sesuai jadwal.
Karena itu, di banyak negara termasuk Indonesia, pemerintah menerapkan strategi pengobatan yang disebut DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course).
Dalam strategi ini, pasien minum obat di bawah pengawasan langsung tenaga kesehatan atau keluarga yang sudah dilatih, agar pengobatan berjalan tuntas.
Selain pengobatan, pencegahan TBC sangat penting dilakukan, terutama sejak usia muda. Imunisasi adalah langkah untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, yang berperan penting dalam melawan penyakit menular seperti TBC.
Imunisasi BCG (Bacillus Calmette–Guérin) adalah langkah yang digunakan untuk mencegah penyakit TBC. Saat ini, imunisasi tersebut menjadi satu-satunya program imunisasi yang tersedia untuk mencegah TBC.
Imunisasi ini tidak melindungi secara penuh dari infeksi TBC paru pada orang dewasa, tapi sangat efektif dalam mencegah bentuk TBC berat pada anak-anak, terutama TBC meningitis dan TBC yang menyebar ke seluruh tubuh.
Di Indonesia, imunisasi BCG diberikan secara rutin kepada bayi, biasanya saat usia 1 bulan, dan dilakukan dengan cara disuntik pada kulit bagian atas lengan.
Setelah imunisasi biasanya akan muncul bekas luka kecil di lokasi suntikan, dan hal ini adalah reaksi normal.
Negara-negara dengan angka TBC yang rendah, seperti Amerika Serikat atau Inggris, tidak memberikan imunisasi ini secara massal.
Akan tetapi, mereka tetap memberikannya kepada anak-anak atau tenaga kesehatan yang dianggap memiliki risiko tinggi terpapar TBC.
Untuk Imuners yang punya kerabat yang masih bayi dan belum melakukan imunisasi BCG, bisa datang ke fasilitas kesehatan terpervaya untuk imunisasi, salah satunya seperti Klinik Imunicare .
Selain imunisasi BCG, Klinik Imunicare juga menyediakan layanan imunisasi lainnya jadi bisa sekalian konsultasikan imunisasi apa saja yang diperlukan agar memiliki perlindungan yang lengkap.
Meskipun imunisasi BCG bermanfaat, hal ini bukan satu-satunya langkah pencegahan yang bisa dilakukan.
Untuk mencegah penularan TBC secara umum, penting bagi masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap sehat.
Ruangan harus memiliki ventilasi yang baik agar udara bisa berganti secara teratur. Pasien TBC aktif sebaiknya menggunakan masker saat batuk atau berada di tempat umum, dan menutup mulut dengan tisu atau siku saat bersin.
Orang yang tinggal serumah dengan penderita juga sebaiknya menjalani pemeriksaan untuk memastikan tidak ikut terinfeksi.
Faktor daya tahan tubuh juga berperan penting. Orang dengan imunitas lemah jauh lebih mudah terinfeksi dan jatuh sakit.
Karena itu, pola makan sehat, cukup tidur, tidak merokok, dan mengelola stres menjadi bagian dari upaya mencegah TBC.
Gizi buruk juga berkaitan erat dengan risiko TBC, terutama pada anak-anak dan orang dewasa yang bekerja berat dengan asupan makanan tidak memadai.
Pemeriksaan rutin juga penting, terutama bagi orang-orang yang berada dalam kelompok beresiko.
Semakin cepat infeksi TBC ditemukan, semakin besar peluang untuk sembuh, dan semakin kecil risiko penyebaran ke orang lain.
TBC memang penyakit yang dikenal sejak lama, tapi ancamannya masih sangat nyata.
Jika mengalami batuk berkepanjangan, merasa lemas, dan berat badan terus menurun, jangan tunda untuk periksa.
Pastikan anak atau kerabat yang masih bayi untuk melakukan imunisasi BCG untuk mendapatkan perlindungan sejak dini.
Jaga selalu kebersihan lingkungan dan kesehatan diri. Dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, resiko tertular TBC bisa diminimalisir.
Sumber

17th March 2026

1st March 2026

24th February 2026